Artikel opini ini ditulis oleh Tajus Syarofi, Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina Jakarta.
Februari 2026 menjadi momen yang menandai betapa rapuhnya stabilitas global saat ini. Ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat dan Iran telah menciptakan kekacauan dalam struktur ekonomi pasar minyak dunia. Bagi Indonesia, yang merupakan negara pengimpor bersih minyak, situasi ini menjadi ancaman nyata yang dapat mempengaruhi kesejahteraan setiap warganya.
Setiap kali terjadi ketegangan di Timur Tengah, Indonesia selalu terjebak dalam dampaknya. Adanya kemungkinan lonjakan harga minyak global memaksa pemerintah untuk mengambil keputusan sulit: menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang akan berdampak pada inflasi, atau meningkatkan subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang seharusnya dapat digunakan untuk sektor lainnya.
Pasca meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei pada 1 Maret 2026, dunia menghadapi potensi konflik global yang lebih luas. Bagi Indonesia, berita ini bukan hanya sekadar duka, melainkan juga sebuah ancaman serius terhadap pasokan energi yang semakin menipis. Secara strategis, Iran menguasai Selat Hormuz, jalur vital untuk pasokan minyak dunia. Dalam konteks geopolitik, selat ini berfungsi sebagai chokepoint, yang berisiko ditutup oleh Iran sebagai tindakan balasan atas kematian Khamenei.
Prinsip dasar ekonomi berlaku: jika suatu barang sulit diperoleh, harga barang tersebut akan meningkat tajam. Indonesia berada dalam posisi yang sangat rentan sebagai pengimpor bersih, di mana kita lebih banyak mengimpor dibandingkan mengekspor. Situasi ini semakin mengkhawatirkan karena ketergantungan ekonomi kita pada bahan bakar fosil yang jalurnya melewati selat tersebut. Menurut Fahmy Radhi, seorang pengamat energi dari Universitas Gajah Mada (UGM), setiap lonjakan harga minyak dunia akibat konflik dapat memicu efek domino yang merusak bagi ekonomi Indonesia.
Ada beberapa dampak signifikan yang akan muncul akibat fenomena ini. Pertama, akan terjadi “pendarahan” besar pada APBN. Misalnya, jika harga minyak dalam APBN 2026 diasumsikan berada di angka moderat USD 70 per barel, dan tiba-tiba melambung menjadi USD 120 per barel, pemerintah harus menanggung selisih subsidi yang mencapai triliunan rupiah. Kebijakan yang diambil pun akan terbatas; pemerintah hanya memiliki dua pilihan: memangkas anggaran untuk pembangunan, pendidikan, dan kesehatan, atau menaikkan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar, yang berpotensi memicu gejolak sosial di masyarakat.
Menghadapi tantangan ketahanan energi yang semakin kompleks, Indonesia harus merumuskan strategi yang lebih komprehensif. Ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk meningkatkan ketahanan energi nasional:
1. Diversifikasi Sumber Energi: Mengurangi ketergantungan pada minyak dengan mengembangkan sumber energi terbarukan, seperti tenaga surya, angin, dan biomassa.
2. Investasi dalam Infrastruktur Energi: Membangun infrastruktur yang lebih baik untuk mendukung distribusi dan penyimpanan energi.
3. Kebijakan Energi Berkelanjutan: Menerapkan kebijakan yang mendukung penggunaan energi efisien dan ramah lingkungan.
4. Kerja Sama Internasional: Meningkatkan kerjasama dengan negara-negara penghasil energi untuk memastikan pasokan yang stabil.
5. Edukasi dan Kesadaran Publik: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya penghematan energi dan penggunaan sumber energi alternatif.
Dengan langkah-langkah tersebut, Indonesia dapat meningkatkan ketahanan energi, menghadapi tantangan yang ada, dan mengurangi dampak negatif dari fluktuasi harga minyak global. Keberhasilan dalam upaya ini tidak hanya akan menjaga stabilitas ekonomi, tetapi juga memastikan ketersediaan energi bagi masyarakat di masa depan.
Dalam menghadapi masa depan yang tidak pasti ini, penting bagi Indonesia untuk tetap proaktif dalam mengelola sumber daya energi. Ketahanan energi yang solid tidak hanya akan melindungi ekonomi nasional, tetapi juga memberikan rasa aman bagi rakyat Indonesia. Dengan mengadaptasi strategi yang tepat dan memanfaatkan potensi lokal, Indonesia bisa menjadi negara yang lebih mandiri dalam hal energi, terlepas dari dinamika global yang sering berubah.
➡️ Baca Juga: OPPO Find X7 vs Vivo X100: Pertarungan Kamera High-End, Mana Natural?
➡️ Baca Juga: Optimalisasi Huntara untuk Pengungsi Korban Bencana Sumatera yang Masih Tinggal di Tenda
