Krisis Energi Saat Ini: Apakah Dampaknya Lebih Parah daripada Covid-19?

Selat Hormuz saat ini tetap dihadapkan pada pembatasan yang ketat, yang mengakibatkan sebagian besar kapal tanker minyak tidak dapat melewati kawasan tersebut. Hanya sejumlah kecil yang diberikan izin untuk melintasi jalur penting ini.
Sebagai hasil dari situasi tersebut, pasar global mengalami kehilangan sekitar 11 juta barel minyak dan cairan petroleum per hari. Angka ini mencerminkan lebih dari 10 persen dari total pasokan minyak dunia.
Meskipun gangguan sebesar 10 persen mungkin tidak terlihat seperti bencana besar, di dalam konteks pasar minyak, ketidakseimbangan sebesar itu antara penawaran dan permintaan dapat menghasilkan dampak ekonomi yang sangat signifikan.
Adi Imsirovic, seorang dosen Sistem Energi di Universitas Oxford, Inggris, mengaitkan situasi ini dengan masa puncak pandemi Covid-19 pada tahun 2020.
Selama masa lockdown global, keheningan jalanan dan tidak beroperasinya pesawat menjadi pemandangan umum. Aktivitas ekonomi pun terhenti, menciptakan suasana yang suram di stasiun bus dan kereta api.
Saat itu, permintaan minyak secara global menurun sekitar 8 juta barel per hari, menciptakan salah satu guncangan permintaan terburuk dalam sejarah. Namun, situasi saat ini justru berlawanan. Alih-alih penurunan permintaan, dunia kini menghadapi krisis pasokan yang besar.
Dampak dari krisis ini terhadap kehidupan sehari-hari bisa jadi mirip dengan yang terjadi selama Covid-19: pengurangan perjalanan, kenaikan biaya transportasi, perlambatan aktivitas ekonomi, dan tekanan yang lebih berat pada anggaran rumah tangga.
“Hal ini terjadi karena pasokan dan permintaan minyak pada umumnya sangat kaku dalam jangka pendek. Masyarakat tetap perlu melakukan perjalanan ke tempat kerja, distribusi barang tetap harus berjalan, dan pesawat masih memerlukan bahan bakar,” jelasnya, seperti yang dilaporkan oleh sumber berita.
Ketika pasokan minyak tiba-tiba menurun, harga biasanya akan meroket untuk menekan permintaan. Saat ini, pelepasan cadangan minyak darurat telah membantu meringankan dampak awal, terutama bagi negara-negara maju.
Negara-negara anggota Badan Energi Internasional diwajibkan untuk memelihara cadangan darurat yang setara dengan minimal 90 hari konsumsi minyak. Beberapa negara juga memiliki cadangan minyak strategis tambahan.
Karena itu, negara-negara seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang memiliki kemampuan untuk mengatasi gangguan pasokan dalam waktu terbatas. Namun, cadangan tersebut bukanlah solusi jangka panjang. Jika konflik ini berlanjut selama berbulan-bulan, persediaan yang ada bisa terkuras habis.
➡️ Baca Juga: 51 Ribu Penumpang Tiba di Jakarta Melalui Kereta Hari Ini
➡️ Baca Juga: Perppu Pelebaran Defisit APBN: Purbaya Tegaskan Anggaran Masih Aman dan Terkendali




