Mossad Siap Memicu Kejatuhan Pemerintah Iran dengan Strategi Taktis yang Efektif

Badan intelijen Israel, Mossad, dikabarkan memiliki strategi yang dirancang untuk memicu gelombang protes di Iran, dengan harapan dapat menggulingkan pemerintahan yang sedang berkuasa. Laporan tersebut diangkat oleh salah satu media besar di Amerika Serikat.
Kepala Mossad, David Barnea, melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, beberapa hari sebelum dimulainya operasi militer oleh AS dan Israel terhadap Iran. Dalam diskusi tersebut, Barnea mengungkapkan bahwa agensinya memiliki kemampuan untuk mengorganisir kelompok oposisi di Iran dengan tujuan mendorong terjadinya perubahan rezim.
Menurut laporan yang mengutip wawancara dengan pejabat tinggi dari AS dan Israel, Barnea juga mempresentasikan rencana tersebut kepada sejumlah pejabat senior di Washington pada pertengahan Januari. Ini menunjukkan bahwa rencana tersebut dirancang untuk mendapatkan dukungan internasional.
Rencana yang dipresentasikan oleh Mossad kemudian mendapat lampu hijau dari Netanyahu dan Donald Trump, meskipun ada keraguan dari beberapa pejabat senior di kalangan intelijen militer Israel dan AS. Informasi dari kedua negara menunjukkan bahwa janji dari Mossad ini digunakan oleh Netanyahu untuk meyakinkan presiden AS bahwa menggulingkan pemerintahan Iran adalah suatu kemungkinan yang realistis.
Dalam skenario yang diusulkan, operasi militer akan dibuka dengan pembunuhan para pemimpin Iran, diikuti dengan serangkaian langkah intelijen yang bertujuan untuk mendorong perubahan rezim. Mossad percaya bahwa langkah ini dapat memicu pemberontakan besar yang pada akhirnya akan membawa kemenangan bagi Israel dan Amerika Serikat.
Saat konflik mulai berkecamuk, pernyataan publik dari Donald Trump mencerminkan keyakinan tersebut.
“Kepada rakyat Iran yang besar dan bangga, malam ini saya katakan bahwa saat kebebasan kalian sudah dekat… ketika kami selesai, ambillah alih pemerintahan kalian. Itu akan menjadi milik kalian. Ini mungkin satu-satunya kesempatan kalian dalam beberapa generasi,” ungkap Trump dalam sebuah video berdurasi delapan menit yang diunggah pada waktu itu.
Namun, diskusi mengenai kemungkinan perubahan rezim itu cepat meredup. Kurang dari dua minggu setelah perang dimulai, sejumlah senator AS yang mengikuti pengarahan menyatakan bahwa menggulingkan Republik Islam bukanlah tujuan dari operasi tersebut. Bahkan, mereka mengklaim tidak ada rencana yang jelas terkait langkah militer yang akan diambil.
Kekecewaan Netanyahu terhadap Mossad pun dilaporkan semakin meningkat.
Penilaian dari CIA sendiri menyebutkan bahwa pemerintah Iran tidak akan jatuh. Bahkan, badan intelijen AS tersebut berpendapat bahwa jika para pemimpin Iran dibunuh, kemungkinan besar akan muncul kepemimpinan yang lebih ekstrem dan radikal.
➡️ Baca Juga: 841 Kapal Siap Didistribusikan Pemerintah untuk Lancarkan Angkutan Laut Mudik Lebaran 2026
➡️ Baca Juga: Latihan Keseimbangan Dinamis untuk Meningkatkan Stabilitas Gerakan Tubuh Anda




