Presiden Israel Jelaskan Alasan Serangan ke Iran Terkait Pengembangan Senjata Nuklir

Presiden Israel, Isaac Herzog, menyatakan bahwa baik Israel maupun Amerika Serikat tidak memiliki banyak alternatif selain melakukan serangan ke Iran. Menurutnya, ada kekhawatiran yang semakin mendalam mengenai potensi Iran untuk memperluas arsenal senjatanya.
Lebih lanjut, Herzog menegaskan keyakinan bahwa Iran sedang merencanakan pengembangan senjata nuklir secara rahasia. Ia mengungkapkan bahwa intelijen Israel menunjukkan bahwa Iran berupaya meningkatkan jumlah rudal jarak jauh mereka dari 2.000 menjadi 20.000 unit.
“Ketika Anda menyaksikan bahwa Iran telah menghabiskan seluruh sumber daya dan dana negaranya untuk menciptakan kekacauan di Timur Tengah, sementara Anda berusaha menjalin hubungan damai dengan negara-negara Muslim, dan mengetahui bahwa mereka memiliki rencana rahasia untuk memproduksi bom secara cepat, maka langkah tindakan harus diambil,” ungkap Herzog, seperti yang dilaporkan oleh CBS News pada Kamis, 5 Maret 2026.
Hingga saat ini, baik Amerika Serikat maupun Israel belum menyajikan bukti konkret yang mendukung klaim bahwa Iran sedang merencanakan pembuatan senjata nuklir. Utusan khusus Gedung Putih, Steve Witkoff, menyampaikan pada hari Senin bahwa sebelum serangan dilancarkan, pihak negosiator Iran mengklaim dalam perundingan bahwa mereka memiliki cukup uranium untuk memproduksi 11 bom nuklir.
Iran sendiri telah lama menegaskan bahwa program nuklirnya ditujukan hanya untuk kepentingan damai.
Dengan serangan udara gabungan antara AS dan Israel ke Iran yang kini telah memasuki hari keenam tanpa indikasi bahwa konflik ini akan mereda, Herzog menekankan bahwa Israel tidak menginginkan invasi darat ke negara tersebut.
“Saya ingin menekankan, saya tidak meminta adanya pasukan yang diturunkan ke tanah. Saya tidak meminta intervensi dari Amerika atau pihak lainnya,” kata Herzog.
Ketika ditanya mengenai asal usul keputusan untuk menyerang, apakah berasal dari Presiden Trump atau pemimpin Israel, Herzog menegaskan bahwa Israel tidak pernah mendikte tindakan kepada Presiden Trump, dan tidak pernah menarik Amerika ke dalam perang.
“Keputusan yang diambil oleh Trump ini berdasarkan pertimbangan yang jelas dan proses pengambilan keputusan yang profesional,” tambahnya, sambil menegaskan bahwa Israel tetap menjadi faktor penting karena keduanya adalah sekutu.
Herzog menjelaskan bahwa tujuan dari perang ini bukanlah untuk menggulingkan rezim Iran, melainkan untuk menciptakan perubahan yang signifikan di Timur Tengah. Ini termasuk melemahkan kemampuan Iran dalam mengembangkan senjata nuklir dan mencegah negara tersebut menjadi sponsor terorisme di seluruh dunia, termasuk dukungan terhadap kelompok-kelompok militan seperti Hamas di Gaza, Hezbollah di Lebanon, dan Houthi di Yaman.
➡️ Baca Juga: Pencuri Lampu Sorot di Jakbar Tertangkap Saat di Atas Billboard
➡️ Baca Juga: Apa yang Harus Diketahui tentang Tren Teknologi di Indonesia?




